Pemko Kerja Sama BIG Persiapkan RDTR

Walikota Batam, Muhammad Rudi 

Media Center Batam – Pemerintah Kota Batam tandatangani perjanjian kerja sama dan nota kesepakatan dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk pengadaan peta dasar rencana detail tata ruang (RDTR) Kota Batam. Penandatanganan dilaksanakan di Kantor Walikota Batam, Selasa (4/12).

Pemetaan yang direncanakan Pemko Batam yakni skala 1:5.000. Kepala BIG, Hasanuddin Zainal Abidin menyarankan agar peta yang dibuat dengan skala lebih detail, 1:1.000.

“Saran saya kalau bisa Batam buat 1:1.000. Karena otomatis 1:5.000 dapat. Dan BPN juga butuh 1:2.500. Kalau buat yang 1:5.000 tak dapat,” kata Hasanudin.

Peta 1:1.000 ini juga diperlukan apabila Batam ingin menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Begitu juga apabila Batam ini menjadi kota cerdas atau smart city, dibutuhkan peta 3 dimensi berskala 1:1.000.

Menurutnya Batam memungkinkan untuk buat peta 1:1.000. Karena luasan Batam yang tak terlalu besar. Bisa dilakukan dengan foto udara dan bidang.

“Yang sudah 1:1.000 itu Surabaya, Bandung, Medan. Kalau bisa Batam berikutnya yang 1:1.000. Banyuwangi, Padang juga sudah antre ingin 1:1.000,” tutur pria bergelar Profesor ini.

Terkait RDTR, menurut Hasanudin, baru 2 persen dari 1.838 pengajuan. Ketersediaan RDTR ini juga penting bagi investasi. Karena kegunaan RDTR juga adalah sebagai pendukung online single submission (OSS) untuk percepatan perizinan.

“Kalau RDTR belum selesai, investor mau masuk juga repot. Jangan sampai terjadi seperti Bekasi. Maka perlu RDTR segera. Kita hanya membantu siapkan peta dasarnya. Kita berusaha mempercepat dengan bantuan citra satelit resolusi tinggi (CSRT) Lapan (lembaga antariksa dan penerbangan nasional),” kata dia.

Walikota Batam, Muhammad Rudi mengatakan RDTR ini sangat Pemko Batam butuhkan untuk perencanaan pembangunan Kota Batam. Karena rencana tata ruang yang dulu disiapkan sudah tak digunakan lagi. Sehingga penataan kota menjadi amburadul.

“Dua tahun ini saya coba tata kembali. Sesuai yang direncanakan Pak Habibie. Bagaimana bisa kita mengembalikan sehingga Batam jadi tujuan wisata dan industri dari luar,” ujar Rudi.

Ia berharap tata ruang Batam benar-benar selesai. Sehingga pemberian izin tidak tumpang tindih lagi supaya bisa ditata kembali.

“Mulai pelan-pelan kita selesaikan. Apa yang sudah kami lakukan dua tahun ini mulai nampak hasilnya dengan kunjungan wisatawan. Biasa hanya 1,4 juta sekarang sampai November sudah 1,8 juta. Tahun 2015 pertumbuhan ekonomi hanya satu koma. Hari ini sudah kembali mendekati 5 persen,” sebutnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *