RSUD-EF Pengampu “Temenin” Enam Fasilitas Kesehatan di Kepri

Direktur RSUD-EF, Ani Dewiyana konferensi jarak jauh bersama Menteri Kominfo RI, di RSUD-EF, Rabu (20/3).

Media Center Batam – Palapa Ring, jaring komunikasi internet yang dibangun Kementerian Kominfo telah mempermudah pelayanan masyarakat di berbagai bidang, termasuk kesehatan. Setahun terakhir, dokter-dokter di Natuna dan berbagai daerah di Kepulauan Riau bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis di RSUD Embung Fatimah (RSUD-EF) tanpa harus menyeberangkan pasien ke Batam.

Telekonsultasi kesehatan jarak jauh yang memanfaatkan Palapa Ring ini diberi nama Telemedicine Indonesia atau disingkat Temenin. Direktur RSUD-EF, Ani Dewiyana mengatakan RSUD-EF ditunjuk sebagai rumah sakit pengampu sejak Desember 2017. Dan program Temenin sepenuhnya berjalan mulai Januari 2018.

“Fasilitas kesehatan yang diampu ada dua rumah sakit, Dabo dan Natuna. Serta empat Puskesmas, Galang (Batam), Tambelan (Bintan), Tarempa (Anambas), dan Moro (Tanjungbalai Karimun),” papar Ani usai konferensi jarak jauh bersama Menteri Kominfo RI, di RSUD-EF, Rabu (20/3).

Melalui program Temenin, dokter-dokter di enam fasilitas kesehatan tersebut bisa lebih mudah berkonsultasi dengan dokter yang ada di RSUD-EF. Konsultasi berjalan lebih simpel, karena didukung layanan internet untuk percakapan secara audio visual. Layaknya berkomunikasi hadap-hadapan tapi dalam rentang jarak yang jauh.

Pada teleconference tersebut juga dilakukan demo konsultasi jarak jauh antara dokter di Natuna dengan dokter spesialis di RSUD-EF Batam. Kedua dokter berbicara seperti sedang tatap muka, namun melalui layar komputer.

Kasus yang dikonsultasikan adalah pasien kanker payudara. Dokter di Natuna menunjukkan hasil pemeriksaan awal sekaligus menjelaskan kondisi yang ia pahami. Kemudian meminta masukan dari dokter di RSUD-EF terkait pasien tersebut.

“Jadi ada kasus kanker payudara di Natuna. RSUD Embung Fatimah punya subspesialis, konsulen onkologi. Inilah salah satu manfaat Temenin. Pasien tak perlu lagi dibawa jauh-jauh. Dokter bisa konsul medis ke dokter di RSUD,” terang perempuan bertitel dokter gigi tersebut.

Kasus-kasus medis lain yang dikonsultasikan sepanjang 2018 lalu yakni penyakit jantung, obgin atau kebidanan, radiologi, dan sebagainya. Konsultasi terbanyak adalah untuk penyakit jantung.

Menurut Ani, sebagian besar rumah sakit daerah masih berstatus C. Sementara rumah sakit yang ia pimpin sudah tipe B, dengan jumlah dokter spesialis 50 orang dari beberapa bidang spesialisasi.

Terkait kendala, diakui Ani, masih ada beberapa daerah yang kesulitan jaringan internet. Sehingga pengiriman gambar atau foto radiologi agak terlambat. Tapi untuk konsultasi melalui telepon masih bisa berjalan.

“Kami harap bisa tingkatkan pelayanan internetnya. Karena masih kesulitan dalam jaringan internet. Seperti Tambelan kesulitan, Tarempa jaringan masih kesulitan juga. Harapan kami dengan adanya Palapa Ring di Kepri dapat meningkatkan pelayanan telemedicine antar kepulauan yang ada di Provinsi Kepulauan Riau,” ujarnya.

Keluhan ini langsung disambut Menteri Kominfo RI, Rudiantara. Melalui teleconference, Rudiantara meminta RSUD-EF untuk segera kirimkan lokasi fasilitas kesehatan yang membutuhkan jaringan internet.

“Kami mohon informasi data lokasi Puskesmas yang Ibu minta ada internetnya. Kalau bisa kami pasang internet segera. Bisa kami pasang internet pakai satelit. Mudah-mudahan bisa dieksekusi segera. Kami mohon informasi tentang Puskesmasnya yang butuh dihubungkan internet,” kata Rudiantara.

Ia menjelaskan Temenin ini adalah salah satu aplikasi pemanfaatan Palapa Ring. Temenin ini akan mengubah cara pemerintah, Kementerian Kesehatan dan jajarannya, dalam melayani masyarakat. Pasien tak perlu pergi jauh-jauh, cukup menggunakan komunikasi jarak jauh untuk konsultasi.

“Ini sudah dilakukan bulan lalu antara Sorong Papua dengan RSCM (RS Cipto Mangunkusumo). Kasusnya itu ada sesuatu di kepala pasien. Jadi pasien enggak susah-susah dibawa ke RSCM untuk konsultasi,” sebutnya.

Ia menambahkan pada 2022 akhir pemerintah menargetkan untuk miliki satelit sendiri. Satelit khusus untuk internet kecepatan tinggi, bukan televisi atau telepon.

“Kami akan hubungkan semua Puskesmas, rumah sakit, kantor desa, Polres, Koramil, dan sebagainya dengan internet. Sebelum ada satelit sendiri sementara ini kita sewa kalau ada satelit sejenis. Kita mau punya yang kapasitasnya 150 GB. Itu teknis tapi bisa berenanglah di internet,” tutur Rudiantara.

Mungkin Anda juga menyukai

DD