Industri Pengolahan Kontributor Terbesar Pertumbuhan Ekonomi Kepri

Kepala Kantor Perwakilan BI Kepri/Wakil Ketua TPID Kepri, Gusti Raizal Eka

Media Center Batam – Sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau di 2018. Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri, pada triwulan I-III 2018 industri pengolahan tumbuh 3,90 persen (year on year/yoy) dengan kontribusi 35,81 persen.

Perbaikan kinerja sektor industri pengolahan terutama ditopang oleh industri elektronik dan industri produk dari besi dan baja yang masing-masing tumbuh 8,39 persen (yoy) dan 51,59 persen (yoy). Lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu, yang masing-masing tumbuh sebesar 7,57 persen (yoy) dan kontraksi 64,21 persen (yoy).

Pertumbuhan ekspor elektronik sejalan dengan Index of Industrial Production Singapura yang sepanjang 2018 menunjukkan tren peningkatan. Sementara peningkatan ekspor produk besi dan baja diperkirakan sebagai dampak dari kenaikan harga minyak dan gas bumi.

“Elektronik salah satu komoditas atau barang produk ekspor kita yang sekarang ini memberikan kontribusi cukup besar, kepada nasional juga. Tapi kelemahan kita saat ini adalah industri elektronik kita ini di-support (didukung) juga oleh bahan baku impor juga. Bagaimana ke depan kita bisa dorong pengembangan industri supporting (pendukung) daripada industri besar di Batam. Sehingga nilai tambah yang kita peroleh lebih tinggi,” papar Kepala BI Kepri, Gustri Raizal Eka Putra di Radisson Hotel, pekan lalu.

Selain itu, aktivitas kepariwisataan di Provinsi Kepulauan Riau juga dinilai cukup membantu perekonomian. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh cukup tinggi sepanjang 2018. Pertumbuhan ini ditopang dari aktivitas kepariwisataan tersebut.

Peningkatan aktivitas pariwisata terkonfirmasi dari indikator tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Pada periode Januari sampai dengan September 2018, kunjungan wisman ke Kepri tumbuh signifikan, 27,33 persen (yoy). Jumlah kunjungan wisman tercatat 1,89 juta orang. Pada periode yang sama tahun lalu, kunjungan wisman tumbuh sebesar 4, 81 persen (yoy), dengan jumlah 1,48 juta orang.

“Rata-rata tingkat hunian kamar hotel periode Januari-September 2018 tercatat sebesar 51,81 persen. Lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu, 51,14 persen,” ujarnya.

Namun peningkatan pertumbuhan kunjungan wisman ini belum memberikan kontribusi optimal. Terlihat dari lama kunjungan wisman yang mengalami penurunan, dari 2,14 hari menjadi 1,85 hari.

“Walaupun jumlah wisman yang masuk ke Kepri sudah ada peningkatan. Tapi ternyata length of stay (lama menetapnya) masih rendah, masih di bawah 2. Ini tentu yang jadi PR (pekerjaan rumah) kita juga ke depan. Bagaimana kita bisa mendorong lama menginap orang di sini sehingga akan mendorong juga spending (pengeluaran) daripada wisman. Ini ada poin bagus yang disampaikan Dinas Pariwisata Banyuwangi, kita harus mencari keunikan di sini. Mungkin kita memilih hal unik yang bisa dikembangkan. Sehingga bagaimana pariwisata memberikan manfaat bagi masyarakat, mendorong meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” papar Gusti.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *